Welcome to my Blog "AHLAN WA SAHLAN". My bog, my rules. Which means : No hating.Don't forget send LOVE you can chat me. Syukron and enjoy my blog. I hope you like it and you don't bored with my blog.
CERITA ANAK SMP (Kecil Tapi Berharga)
Jumat, 17 Februari 2012 // 07.23
Kristal-kristal air menetes dari langit jatuh di atap gubuk kecil pinggir jalan. Lampu yang kuning terang, deras mesra suara air yang masuk ke selokan. Malam itu seorang anak sedang asyik mambaca buku di ruang tengah. Matanya terlihat lelah. "Cepat tidur sana. Besuk dilanjutkan lagi, sudah hampir tengah malam" suara lembut seorang ibu terdengar dari sisi ruangan. "Iya Mak" jawabnya sambil menutup buku dan menuju kamar tidurnya. Mufa tidak lupa mematikan lampu sebelum tidur dan setelah itu bersiap menjelajah di pulau kapuk.
Malam itu terasa begitu dingin. Hujan tak kunjung reda sejak tadi sore. Akhir-akhir ini kota kecil sering terguyur hujan. Matahari jarang menampakan sinarnya karena tertutup awan hitam. Jalanan selalu basah dan tergenang air. Tapi kota kecil tersebut tidak pernah sepi
Fajar shadiq telah datang. Suara azan dari surau terdengar begitu jelas. Suara Abang Wisnu menggema ke seantero kampung di tengah sepinya pagi. "Ayo sholat dulu, Mufa" Mamak mengajak anak sulungnya yang sedang memasak air. "Iya. Tsany sekalian dipanggil Mak?" datang menghampiri Mamak. "Iya. Suruh dia segera bangun. Kalo tidak bangun juga, siram air." Mamak memberi Mufa gayung berisi air. Mufa hanya tersenyum mendengar kata-kata Mamaknya barusan. Memang Tsany adik Mufa sering susah dibangunkan untuk sholat. Dan dengan segera Mufa menuju ke kamar adiknya. Mengetuk pintu. "Bangun bangun. Cepat sudah subuh. Matahari sudah hampir terbit." Mufa dengan suara agak keras membangunkan adik keduanya itu. "Iya iya aku bangun" Tsany menjawab dengan sebal.
Sesudah sholat Mufa menyiapkan sarapan setelah itu langsung segera mandi karena dia harus ke sekolah. Sekolahnya dimulai pukul 6 pagi karena ada pelajaran tambahan untuk persiapan Ujian Nasional. Mufa sekarang sudah kelas 3 SMP. Dia sekolah di SMP yang cukup maju di kotanya. Setelah mandi dan sarapan Mufa pamitan pada Mamak. Di depan rumah rupanya Mamak sedang menunggu anak-anaknya yang akan berangkat ke sekolah. Tsany sekarang kelas 6 SD. Dia bersekolah di SD yang sama dengan SD Mufa dulu. "Mak Mufa berangkat sekolah dulu ya." Mufa mencium tangan Mamaknya. "Iya, hati-hati dijalan. Kamu tidak menunggu adikmu dulu?" Mamak berkata pada Mufa yang sedang menuntun sepedahnya keluar dari halaman rumah. "Mmm... Iy" Mufa belum selesai bicara, Tsany memotong "Tidak usah, aku berangkat sendiri. Kakak duluan saja". Mufa menaiki sepedah dan segera mengayuhnya "Ya sudah. aku berangkat dulu. Assalamu'alaykum".
Mufa seringkali berangkat ke sekolah 5 menit sebelum pelajaran tambahan dimulai itu yang membuatnya sering terlambat. Jadi dia harus melaju dengan cepat agar tidak terlambat lagi hari ini. Jarak antara rumahnya dan sekolah kurang lebih 2 km. Dengan sekuat tenaga dia mengayuh sepedah karena jalan menuju ke sekolahnya menanjak.
Beruntung hari ini Mufa tidak datang terlambat. Sesampai di sekolah dia segera menuju ke tempat parkir sepedah dan memarkir sepedahnya. Di tempat parkir Mufa bertemu dengan Hasibuan, sahabat satu kelasnya. "Assalamu'alaykum Buan" menghampiri Hasibuan sambil menepuk pundak sahabatnya. "Hai wa'alaykumsalam warohmatulloh. Mufa pagi-pagi sudah membuat orang jantungan ah" jawab Hasibuan sebal karena kaget. "Hahaha... kamu melamun sih." Mufa menjulurkan lidahnya menggoda. Hasibuan adalah anak yang cantik, pandai, sederhana, baik, asyik, dan menyenangkan. "Siapa yang melamun, sotoy kamu." balas Hasibuan pada Mufa yang nakal.
Pelajaran tambahan dimulai. Setelah 45 menit pelajaran tambahan usai. Waktunya upacara bendera. Semua murid dan guru menuju ke lapangan. Mufa dan Hasibuan menunggu sahabat mereka lainnya. Di luar kelas mereka bercakap-cakap sebentar dengan teman-teman yang belum ke lapangan. "Hai Mufa, hai Buan kalian sedang menunggu aku?" terdengar seorang anak memanggil Mufa dan Hasibuan. "Eh kamu Al, pede amat. Kita lagi nungguin Ening kok" jawab Hasibuan. "Jahat ah kamu" Alam mencubit Hasibuan. Mereka memang anak SMP tapi mereka masih suka seperti anak kecil. "Sudah-sudah, ayo ke lapangan. Kalian tidak maukan jadi yang terakhir tiba." Mufa menarik tangan sahabat-sahabatnya. Upacara di mulai semua sudah berkumpul di lapangan sekolah dan berbaris dengan rapi. Khidmat. Upacara berlangsung dengan lancar. Setelah upacara selesai semua kembali ke kelas masing-masing dan kegiatan belajar mengajar pun dimulai.
Bel berbunyi. Wakunya berganti pelajaran. Sekarang pelajaran TIK, Mufa dan yang lain menuju ruang multimedia. Semua sudah duduk rapi. "Assalamu'alaykum warohmatullohi wabarokatuh. Baiklah sekarang saya mulai pelajarannya" guru TIK memulai pembelajaran. "Wa'alaykumsalam warohmatullohi wabarokatuh" semua murid muslim satu kelas menjawab hampir bersamaan. "Bagaimana dengan tugas batiknya? Ada yang sudah selesai mungkin? Atau sudah jadi sebagian? Coba saya lihat" Pak Irawan menagih tugas yang telah diberikan 2 minggu yang lalu. "Sudah pak ini masih sebagian" beberapa anak membawa tugasnya, "Pak, lupa tidak dibawa, besuk ya" yang lainnya lupa tidak membawa. "Iya sudah, besuk saya tunggu" jawab Pak Irawan. Setelah mengumpulkan tugas, Pak Irawan memberi materi pelajaran. Belajar TIK.
Pelajaran TIK selesai, berarti waktunya istirahat. Mufa dan Hasibuan menuju ke mushola. Sholat dhuha. Setelah selesai sholat mereka berdua kembali ke kelas. Beberapa teman Mufa bingung atau mungkin ayik memikirkan tugas batik dari Pak Irawan. Semua sibuk membuat batik karya mereka sendiri-sendiri. "Bagaimana batikmu Buan?" tanya Mufa pada sahabatnya yang sedang duduk di depannya. "Mmm... belum punyaku belum selesai, kalau kamu?" jawab Hasibuan dan balik bertanya pada Mufa. "Punyaku jelek, berantakan. Lihat punya teman-teman bagus-bagus. Aku jadi minder" Mufa terlihat pesimis. Memang batik Mufa tidak cukup bagus seperti batik teman-temannya. Karena Mufa tidak sempat membuatnya karena dia tidak dapat membagi waktunya, sedangkan tugasnya begitu banyak. Terkadang dia juga memudahkan tugas. Tugas sekolah maupun tugas rumahnya.
Setelah tiba waktunya. Satu minggu telah berlalu, besuk waktunya mengumpulkan tugas TIK. Tapi Mufa belum juga selesai. Dia sering kelelahan menyelesaikan tugas-tugas lainnya dengan jadwal yang padat, namun tugas TIK nya belum selesai. Dia sering menundanya. Dia berusaha membuat batik sebagus mungkin. Tapi sia-sia. Waktunya tidak cukup besuk harus dikumpulkan. Dia tidak dapat membuat batik yang bagus. Gagal. Berkali-kali batiknya gagal dibuat. Mulai saat itu Mufa sadar semua yang terburu-buru itu tidak baik. Mufa hanya bisa berharap pada Allah. Dia yakin bahwa Allah dapat memberinya kemudahan. Dia harus mengerjakannya dengan bersungguh-sungguh dan dengan kerja keras.
"Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain), dan hanya kepada Rabbmulah engkau berharap." (QS. Al-Insyirah[94] :6-8)
Waktu. Waktu terlihat begitu kecil, begitu singkat, terlewat begitu saja. Tapi waktu begitu berharga. Orang-orang mengatakan waktu adalah emas. Tugas. Tugas terlihat kecil, terlihat mudah, ditinggal begitu saja. Tapi tugas sangatlah berharga. Tugas adalah tanggung jawab yang harus kita kerjakan dan kita selesaikan.
HARGAILAH WAKTUMU, GUNAKAN WAKTUMU SEBAIK MUNGKIN. KERJAKANLAH TUGASMU DENGAN BERSUNGGUH-SUNGGUH, DAN JANGAN MENUNDANYA. KERJA KERAS! KERJA KERAS! FIGHTING....
"BATIK. INI BATIK KU... APA INI BISA DISEBUT BATIK?--a hadeh!"
SEKIAN.
CERITA ANAK SMP (Kecil Tapi Berharga)
Jumat, 17 Februari 2012 // 07.23
Kristal-kristal air menetes dari langit jatuh di atap gubuk kecil pinggir jalan. Lampu yang kuning terang, deras mesra suara air yang masuk ke selokan. Malam itu seorang anak sedang asyik mambaca buku di ruang tengah. Matanya terlihat lelah. "Cepat tidur sana. Besuk dilanjutkan lagi, sudah hampir tengah malam" suara lembut seorang ibu terdengar dari sisi ruangan. "Iya Mak" jawabnya sambil menutup buku dan menuju kamar tidurnya. Mufa tidak lupa mematikan lampu sebelum tidur dan setelah itu bersiap menjelajah di pulau kapuk.
Malam itu terasa begitu dingin. Hujan tak kunjung reda sejak tadi sore. Akhir-akhir ini kota kecil sering terguyur hujan. Matahari jarang menampakan sinarnya karena tertutup awan hitam. Jalanan selalu basah dan tergenang air. Tapi kota kecil tersebut tidak pernah sepi
Fajar shadiq telah datang. Suara azan dari surau terdengar begitu jelas. Suara Abang Wisnu menggema ke seantero kampung di tengah sepinya pagi. "Ayo sholat dulu, Mufa" Mamak mengajak anak sulungnya yang sedang memasak air. "Iya. Tsany sekalian dipanggil Mak?" datang menghampiri Mamak. "Iya. Suruh dia segera bangun. Kalo tidak bangun juga, siram air." Mamak memberi Mufa gayung berisi air. Mufa hanya tersenyum mendengar kata-kata Mamaknya barusan. Memang Tsany adik Mufa sering susah dibangunkan untuk sholat. Dan dengan segera Mufa menuju ke kamar adiknya. Mengetuk pintu. "Bangun bangun. Cepat sudah subuh. Matahari sudah hampir terbit." Mufa dengan suara agak keras membangunkan adik keduanya itu. "Iya iya aku bangun" Tsany menjawab dengan sebal.
Sesudah sholat Mufa menyiapkan sarapan setelah itu langsung segera mandi karena dia harus ke sekolah. Sekolahnya dimulai pukul 6 pagi karena ada pelajaran tambahan untuk persiapan Ujian Nasional. Mufa sekarang sudah kelas 3 SMP. Dia sekolah di SMP yang cukup maju di kotanya. Setelah mandi dan sarapan Mufa pamitan pada Mamak. Di depan rumah rupanya Mamak sedang menunggu anak-anaknya yang akan berangkat ke sekolah. Tsany sekarang kelas 6 SD. Dia bersekolah di SD yang sama dengan SD Mufa dulu. "Mak Mufa berangkat sekolah dulu ya." Mufa mencium tangan Mamaknya. "Iya, hati-hati dijalan. Kamu tidak menunggu adikmu dulu?" Mamak berkata pada Mufa yang sedang menuntun sepedahnya keluar dari halaman rumah. "Mmm... Iy" Mufa belum selesai bicara, Tsany memotong "Tidak usah, aku berangkat sendiri. Kakak duluan saja". Mufa menaiki sepedah dan segera mengayuhnya "Ya sudah. aku berangkat dulu. Assalamu'alaykum".
Mufa seringkali berangkat ke sekolah 5 menit sebelum pelajaran tambahan dimulai itu yang membuatnya sering terlambat. Jadi dia harus melaju dengan cepat agar tidak terlambat lagi hari ini. Jarak antara rumahnya dan sekolah kurang lebih 2 km. Dengan sekuat tenaga dia mengayuh sepedah karena jalan menuju ke sekolahnya menanjak.
Beruntung hari ini Mufa tidak datang terlambat. Sesampai di sekolah dia segera menuju ke tempat parkir sepedah dan memarkir sepedahnya. Di tempat parkir Mufa bertemu dengan Hasibuan, sahabat satu kelasnya. "Assalamu'alaykum Buan" menghampiri Hasibuan sambil menepuk pundak sahabatnya. "Hai wa'alaykumsalam warohmatulloh. Mufa pagi-pagi sudah membuat orang jantungan ah" jawab Hasibuan sebal karena kaget. "Hahaha... kamu melamun sih." Mufa menjulurkan lidahnya menggoda. Hasibuan adalah anak yang cantik, pandai, sederhana, baik, asyik, dan menyenangkan. "Siapa yang melamun, sotoy kamu." balas Hasibuan pada Mufa yang nakal.
Pelajaran tambahan dimulai. Setelah 45 menit pelajaran tambahan usai. Waktunya upacara bendera. Semua murid dan guru menuju ke lapangan. Mufa dan Hasibuan menunggu sahabat mereka lainnya. Di luar kelas mereka bercakap-cakap sebentar dengan teman-teman yang belum ke lapangan. "Hai Mufa, hai Buan kalian sedang menunggu aku?" terdengar seorang anak memanggil Mufa dan Hasibuan. "Eh kamu Al, pede amat. Kita lagi nungguin Ening kok" jawab Hasibuan. "Jahat ah kamu" Alam mencubit Hasibuan. Mereka memang anak SMP tapi mereka masih suka seperti anak kecil. "Sudah-sudah, ayo ke lapangan. Kalian tidak maukan jadi yang terakhir tiba." Mufa menarik tangan sahabat-sahabatnya. Upacara di mulai semua sudah berkumpul di lapangan sekolah dan berbaris dengan rapi. Khidmat. Upacara berlangsung dengan lancar. Setelah upacara selesai semua kembali ke kelas masing-masing dan kegiatan belajar mengajar pun dimulai.
Bel berbunyi. Wakunya berganti pelajaran. Sekarang pelajaran TIK, Mufa dan yang lain menuju ruang multimedia. Semua sudah duduk rapi. "Assalamu'alaykum warohmatullohi wabarokatuh. Baiklah sekarang saya mulai pelajarannya" guru TIK memulai pembelajaran. "Wa'alaykumsalam warohmatullohi wabarokatuh" semua murid muslim satu kelas menjawab hampir bersamaan. "Bagaimana dengan tugas batiknya? Ada yang sudah selesai mungkin? Atau sudah jadi sebagian? Coba saya lihat" Pak Irawan menagih tugas yang telah diberikan 2 minggu yang lalu. "Sudah pak ini masih sebagian" beberapa anak membawa tugasnya, "Pak, lupa tidak dibawa, besuk ya" yang lainnya lupa tidak membawa. "Iya sudah, besuk saya tunggu" jawab Pak Irawan. Setelah mengumpulkan tugas, Pak Irawan memberi materi pelajaran. Belajar TIK.
Pelajaran TIK selesai, berarti waktunya istirahat. Mufa dan Hasibuan menuju ke mushola. Sholat dhuha. Setelah selesai sholat mereka berdua kembali ke kelas. Beberapa teman Mufa bingung atau mungkin ayik memikirkan tugas batik dari Pak Irawan. Semua sibuk membuat batik karya mereka sendiri-sendiri. "Bagaimana batikmu Buan?" tanya Mufa pada sahabatnya yang sedang duduk di depannya. "Mmm... belum punyaku belum selesai, kalau kamu?" jawab Hasibuan dan balik bertanya pada Mufa. "Punyaku jelek, berantakan. Lihat punya teman-teman bagus-bagus. Aku jadi minder" Mufa terlihat pesimis. Memang batik Mufa tidak cukup bagus seperti batik teman-temannya. Karena Mufa tidak sempat membuatnya karena dia tidak dapat membagi waktunya, sedangkan tugasnya begitu banyak. Terkadang dia juga memudahkan tugas. Tugas sekolah maupun tugas rumahnya.
Setelah tiba waktunya. Satu minggu telah berlalu, besuk waktunya mengumpulkan tugas TIK. Tapi Mufa belum juga selesai. Dia sering kelelahan menyelesaikan tugas-tugas lainnya dengan jadwal yang padat, namun tugas TIK nya belum selesai. Dia sering menundanya. Dia berusaha membuat batik sebagus mungkin. Tapi sia-sia. Waktunya tidak cukup besuk harus dikumpulkan. Dia tidak dapat membuat batik yang bagus. Gagal. Berkali-kali batiknya gagal dibuat. Mulai saat itu Mufa sadar semua yang terburu-buru itu tidak baik. Mufa hanya bisa berharap pada Allah. Dia yakin bahwa Allah dapat memberinya kemudahan. Dia harus mengerjakannya dengan bersungguh-sungguh dan dengan kerja keras.
"Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain), dan hanya kepada Rabbmulah engkau berharap." (QS. Al-Insyirah[94] :6-8)
Waktu. Waktu terlihat begitu kecil, begitu singkat, terlewat begitu saja. Tapi waktu begitu berharga. Orang-orang mengatakan waktu adalah emas. Tugas. Tugas terlihat kecil, terlihat mudah, ditinggal begitu saja. Tapi tugas sangatlah berharga. Tugas adalah tanggung jawab yang harus kita kerjakan dan kita selesaikan.
HARGAILAH WAKTUMU, GUNAKAN WAKTUMU SEBAIK MUNGKIN. KERJAKANLAH TUGASMU DENGAN BERSUNGGUH-SUNGGUH, DAN JANGAN MENUNDANYA. KERJA KERAS! KERJA KERAS! FIGHTING....
"BATIK. INI BATIK KU... APA INI BISA DISEBUT BATIK?--a hadeh!"
SEKIAN.
follow me
follow back=allowed
grew up in a small town,
and when the rain would fall down. i'd just stare out my window.
Assalamu'alaykum... HAI Everyone! I'm here ~ My name is Vievi Ruldi. I'm 15 years. I'm a muslim and I LOVE ISLAM. I wanna tobe a muslimah and become sholihah.
I have many friends. Be my friends and I will kind to you :D . Don't forget to follow my blog. "Jazakillahu khoyr".
And Follow or become my friends at plurk -> diksivievifiksy twitter -> faivievi_fiksi facebook -> Vievi Ficksy . Syukron